Feb 20, 2008

barisan semut..

kami barisan semut dalam lubang kecil di sebuah lantai gereja yang bermenara dengan lonceng yang besar
Hujan berlalu berganti musim panas.
Waktunya cari makan kawan,..
Keluarlah..
tak kusangka, tiba-tiba tubuhku mengecil dan kepalaku tengelam dalam perutku
aku tidak dapat lagi melihat kaki-kakiku yang cepat
“ternyata bukan begitu”, mataku beri jawaban
lihatlah, gereja ini yang kian besar, megah dan indah dengan lampu-lampu listrik di tiap sudutnya meski PLN sedang berusaha merubah nama menjadi Perusahaan Lilin Negara namun gereja kian gemerlap...
Tak.. tik..tak..
Syalom, selamat hari minggu , iya.. *&&^^ &^%$#@@^^
Suara riuh bergema ke setiap sudut gereja diselimuti semerbak minyak wangi bak taman seribu bunga..
Mereka tampak baik dan bersih, duduk tenang meski mulut komat-kamit entah berdoa Teng,,..teng..teng, lonceng berdentang
Tak..tik..tak.. cring..ting,,,cring..ting
masih ada suara langkah orang-orang terlambat seperti toko emas berjalan yang tak kalah silaunya.
Aku adalah semut yang berhenti sejenak memperhatikan yang terjadi dan kini aku akan kembali bekerja..
Tapi aku terhenti, bau apa ini? aku menoleh dan mencium bau mereka
Dibalik wewangian sejuta aroma, yang kucium aroma kebencian
dibalik kursi-kursi yang terisi penuh, yang kulihat kursi-kursi perpecahan
dan dibalik kemegahan istana gereja ku lihat puluhan pasang mata menatap dengan sombong,
lidah-lidah dusta menjalar seperti penyakit kusta,
tangan-tangan saling menjatuhkan penghakiman,
dan semua berasal dari tubuh mereka yang harum yang mengaku kudus tapi busuk.
Mereka berkata : kudus, kuduslah semua yang telah masuk ke rumah Tuhan
Sucilah hati kita dan pulanglah dengan sukacita..”
pulang dengan senyum lebar-lebar seperti anak yang medapat hadiah dari bapanya
dan saling berjabatan tangan, sampai jumpa kembali
Tuhan tinggal di rumah ini, kami pulang dulu,,
Jika bumi adalah tumpuan kakiNya dan langit adalah tahta kerajaannya
Ingin mereka kurungkah Tuhan dalam rumah yang mereka buka satu kali dalam tujuh hari?
Yesus akan meninggalkan gereja ketika hadiah guru timur lebih digemari dari pada bayi Yesus
Ia jauh meninggalkan gedung ini ketika kesombongan mengintip dibalik baju kekristenan
Dan dia semakin jauh ketika di gedung itu tidak lagi ada kasih….
Jika saja mereka bertanya pada langit “siapakah yang merajai gedung gereja yang kami bangun ini?” maka langit menurunkan hujan yang membasahi tamannya. lalu hujan menunjuk awan, dan awan akan menunjuk angin, dan angin akan menunjuk pada badai dan badai akan menunjuk pada petir dan petir akan menunjuk pada gunung yang kokoh.
Dan gunung-gunungpun akan menunjukkan bahwa semutlah penguasa gedung gereja ini..
kamilah barisan semut dalam lubang kecil di sebuah lantai gereja yang bermenara dengan lonceng yang besar..

No comments: