Feb 20, 2008

Disesatkan Domba

Jack meneropong hari jauh kedepan
Titik-titik masa depan masih terlihat samar
Nyata sudah perbedaan telah menjadi jurang
Dan persamaan dijadikan persaingan
Kelaparan telah berubah buas
Dan kekenyangan kosong ditelan nafsu
Dia adalah korban dari sebuah perbedaan
Ketika orang-orang menyatakan kekudusan dalam dogma
dan Tuhan dikenal seperti penegak hukum
adakah yang dapat mematuhi aturan – aturannya
Namun dia masih dihakimi dengan aturan makan dan minum
Dia masih ditempeleng dengan aturan pakaian yang menonjolkan kemewahan
Ibadah yang begini dan doa yang begitu
dia terjajah dalam dirinya sendiri
dia hilang dalam kawanan
suara gembala tak lagi terdengar
karena yang terdengar hanya domba-domba yang cengeng
merengek-rengek sepanjang hari meminta berkat
domba yang doyan minum susu
bisakah bayi memilih sesuatu keputusan lain selain menangis?
Gilanya, sang bayi-bayi iman menghakimi tindakan Jack yang sedang memakan makanan keras
Bukan Jack, yang sehari diberi makanan keras, ribuan hari terdengar keluhannya
Tapi mereka yang masih meributkan mengapa begini mengapa begitu
harus begini harus begitu
minta ini dan minta itu lagi …
ia pun sesat bukan karena ditangkap srigala

barisan semut..

kami barisan semut dalam lubang kecil di sebuah lantai gereja yang bermenara dengan lonceng yang besar
Hujan berlalu berganti musim panas.
Waktunya cari makan kawan,..
Keluarlah..
tak kusangka, tiba-tiba tubuhku mengecil dan kepalaku tengelam dalam perutku
aku tidak dapat lagi melihat kaki-kakiku yang cepat
“ternyata bukan begitu”, mataku beri jawaban
lihatlah, gereja ini yang kian besar, megah dan indah dengan lampu-lampu listrik di tiap sudutnya meski PLN sedang berusaha merubah nama menjadi Perusahaan Lilin Negara namun gereja kian gemerlap...
Tak.. tik..tak..
Syalom, selamat hari minggu , iya.. *&&^^ &^%$#@@^^
Suara riuh bergema ke setiap sudut gereja diselimuti semerbak minyak wangi bak taman seribu bunga..
Mereka tampak baik dan bersih, duduk tenang meski mulut komat-kamit entah berdoa Teng,,..teng..teng, lonceng berdentang
Tak..tik..tak.. cring..ting,,,cring..ting
masih ada suara langkah orang-orang terlambat seperti toko emas berjalan yang tak kalah silaunya.
Aku adalah semut yang berhenti sejenak memperhatikan yang terjadi dan kini aku akan kembali bekerja..
Tapi aku terhenti, bau apa ini? aku menoleh dan mencium bau mereka
Dibalik wewangian sejuta aroma, yang kucium aroma kebencian
dibalik kursi-kursi yang terisi penuh, yang kulihat kursi-kursi perpecahan
dan dibalik kemegahan istana gereja ku lihat puluhan pasang mata menatap dengan sombong,
lidah-lidah dusta menjalar seperti penyakit kusta,
tangan-tangan saling menjatuhkan penghakiman,
dan semua berasal dari tubuh mereka yang harum yang mengaku kudus tapi busuk.
Mereka berkata : kudus, kuduslah semua yang telah masuk ke rumah Tuhan
Sucilah hati kita dan pulanglah dengan sukacita..”
pulang dengan senyum lebar-lebar seperti anak yang medapat hadiah dari bapanya
dan saling berjabatan tangan, sampai jumpa kembali
Tuhan tinggal di rumah ini, kami pulang dulu,,
Jika bumi adalah tumpuan kakiNya dan langit adalah tahta kerajaannya
Ingin mereka kurungkah Tuhan dalam rumah yang mereka buka satu kali dalam tujuh hari?
Yesus akan meninggalkan gereja ketika hadiah guru timur lebih digemari dari pada bayi Yesus
Ia jauh meninggalkan gedung ini ketika kesombongan mengintip dibalik baju kekristenan
Dan dia semakin jauh ketika di gedung itu tidak lagi ada kasih….
Jika saja mereka bertanya pada langit “siapakah yang merajai gedung gereja yang kami bangun ini?” maka langit menurunkan hujan yang membasahi tamannya. lalu hujan menunjuk awan, dan awan akan menunjuk angin, dan angin akan menunjuk pada badai dan badai akan menunjuk pada petir dan petir akan menunjuk pada gunung yang kokoh.
Dan gunung-gunungpun akan menunjukkan bahwa semutlah penguasa gedung gereja ini..
kamilah barisan semut dalam lubang kecil di sebuah lantai gereja yang bermenara dengan lonceng yang besar..

Merasa Membenci

Bisakah aku jelaskan makna kebencian?
Seperti sulitnya aku menjelaskan arti cinta
yang bisa ku jelaskan hanya bagaimana rasanya..
jika cinta membawa angin segar yang menyejukkan hati
engkau akan merasakan kedamaian
namun kebencian menjilatkan api pada setiap angin yang membawanya
Demikian kebencian menertawai aku dalam tidur

bencinya aku pada si sombong yang bermulut besar
Yang mencari keuntungan untuk diri mereka sendiri
Merasa pintar di atas kebodohan orang-orang lemah
Dan menjilat di belakang kekayaan dan kebaikan orang-orang mulia
Ingin aku mencekik mereka seperti gunung mencekik angin dengan suara merintih

Dapatkah engkau menjelaskan perasaan apa yang merasuki aku?
Kesetanan kah aku sehingga ada perasaan ini?
Emosional kah aku jika menahan tekanan ini?
Berdustakah aku ketika mengatakan bahwa aku mengasihi orang-orang yang berdosa?
seperti aku yang juga berdosa tetap dikasihi..
Seperti langit yang tidak dapat menolak terpaan sinar mentari
Aku pun tak dapat menolak bahwa matahari terbit untuk orang jahat dan orang baik, sehingga tidak ada guna bertanya pada matahari yang diam
Tiap kali aku bertanya terhadap sesuatu yang belum ku ketahui jawabannya,
Makin terlihatlah kejahatanku
Haruskan aku mengetahui semuanya.
Siapakah yang dapat menjawabnya?
Jika telingapun tidak pernah puas mendengar jawaban
Dan mulutpun tidak pernah puas melontarkan pertanyaan..
Lepaskan lah aku dari siksaan keterpuasan supaya aku benar tahu arti kebencian.
Dan jika aku sudah tahu, adakah untungnya buatku?

sedang menantikan kehancuranmu…

mulutmu dipenuhi kesombongan
dirimu selalu kau tempatkan sebagai yang paling benar
seolah kebenaran berada di dalam hatimu
ku lihat hatimu busuk penuh ulat yang menebarkan bau kemana-mana
malaikat surga pun menutup hidungnya mencium bau mulutmu
engkau baru mendengar langit bergemuruh
tapi tak pernah melihat petirnya
timbangan apakah yang engkau pakai untuk mengukur kebenaran
bukankah firmanNya adalah kebenaran?
tapi engkau… selalu berbicara tentang kebenaran
padahal engkau tak bergaul dengan Firman Tuhan..
engkau sama saja dengan melacurkan kebenaran, yang adalah Firman itu...
lagi pula, hanya ayat tentang pelacuranlah yang kau ingat
itu jua, kau tak pahami perikopnya..
sampai kapankah kebenaran akan diam..
melihat orang-orang seperti engkau menggeliat
bagai cacing di tanah yang gelisah kepanasan
engkau menelan apapun yang ada di sekitarmu
menerkam manusia yang seharusnya bukanlah makananmu
kebenaran tetaplah kebenaran..
tidak berubah meski engkau putar balikkan
ukuran kebenaran yang engkau pakai akan diukurkan kepadamu
ditambah ukuran kebenaran yang datangnya dari atas..
jujur, aku membenci engkau
seperti aku membenci setan yang sedang mengaum seperti singa
engkau adalah salah satu setan yang diutus Lusifer mengikuti kebaktian minggu dan persekutuan
yang duduk di depan, di bangku yang sama guna mencari perhatian..
dan selalu tertidur ketika kebenaran Firman Tuhan dikumandangkan
Dasar setan,..
engkau pikir kantukmu akan menular ke jemaat lain?
atau akan menurunkan kualitas kebenaran yang sedang menggema?
mungkin iya, engkau berhasil..
itu bukan sebab kehebatan senjata kejahatanmu
tapi akibat kesuam-suaman kekristenan jemaat ini..
tapi inilah doaku..
seperti menantikan kehancuran orang-orang fasik yang menyesatkan
demikian aku menantikan kehancuranmu..
inginku tak menangis dalam deritamu
atau tertawa dalam gembiramu.
karena hari-harimu gelap
tak ada malam atau siang
tak ada derita atau gembira
hidupmu tak berasa, hambar ditelan kegelapan
engkau akan sirna dibakar kebenaran cahaya matahari..
engkau pernah mengibaratkan pelayan Tuhan bagai insan yang lebih buruk dari anjing
demikian kelak bangkaimu dan bulanmu tentang kebenaran hanya menjadi santapan anjing-anjing jalanan.
dan baumu yang menusuk kemana-mana memalukan keluargamu sepanjang hidup mereka
sehingga semua orang pun tak ingin lagi mengingat engkau
dan kebenaran benar-benar bersinar ..

Feb 1, 2008

TIME

if time could be our servant

our days would be sublime

but if we fail to master it

we are only "serving time"

dont't spend time

invest it...