Sep 18, 2009

Ketika Gereja tak Seindah Yang Dibayangkan

Ketika Gereja Tidak Seindah yang Dibayangkan..

Apakah anda pernah kecewa terhadap gereja?
Di dalam kehidupan dunia yang melelahkan dan di tengah kegelisahan akibat dosa, banyak orang mencari-cari gereja atau persekutuan-persekutuan iman dengan harapan mendapatkan damai sejahtera. Rasanya hal tersebut dinilai wajar karena memang gereja sebagai tubuh kristus berperan untuk menghadirkan syalom Allah di dalam dunia ini melalui tugas dan panggilannya melalui persekutuan (koinonia), pelayanan kasih (diakonia) dan kesaksian (marturia).
Tetapi banyak orang menjadi kecewa karena harapan itu tidak terpenuhi. Ternyata gereja ini tidak seindah yang dibayangkan. Bahkan ada yang merasa pikirannya lebih damai sebelum ke gereja atau ke persekutuan. Bukan kedamaian yang ia dapatkan di sana tapi kekecewaan. Hal ini bisa muncul karena beberapa hal, yakni ; sakit hati, pola ibadah yang kurang menyentuh, kemunafikan di dalam gereja, kurang diperhatikan, legalisme yang sempit, adanya jurang atau gap antar jemaat, pertikaian atau konflik antar jemaat, perpecahan di tubuh gereja, sikap pemimpin gereja yang tidak dapat diteladani, dan sebagainya.
Kekecewaan ini bisa membuat beberapa orang kristen melakukan hal-hal seperti :

1. Menjadi kristen kutu loncat. Ia menarik diri dan meninggalkan persekutuan di dalam gerejanya semula. Setelah itu, ia akan mencari gereja lain dengan harapan besar bahwa ia tidak akan dikecewakan di gereja sana. Namun, ia pasti akan kecewa lagi. Kemudian mencari lagi gereja lain. “Kutu loncat” yang lompat dari satu gereja ke gereja lain tanpa identitas dan tanggung jawab. Setiap gereja memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Tidak ada gereja yang sempurna dimana kita bisa melarikan diri ke sana. Seandainya pun ada maka gereja tersebut akan menolak orang-orang seperti kita, karena kita tidak sempurna.

2. Menjadi kristen pertapa. Ia memilih untuk berhenti ke gereja atau tidak menghadiri persekutuan yang dilakukan secara teratur, misal PJJ dan PA. Namun ia hadir di suatu tempat yang mengadakan KKR/KKI, cukup membaca alkitab di rumah, berdoa dan saat teduh pribadi, retreat pribadi, PA pribadi, mendengar lagu-lagu rohani dari kaset/CD dan mendengarkan khotbah dari televisi. Dari pada sakit hati karena berkumpul dan berserikat dengan jemaat dan terganggu kenyamanan dan kesenangan pribadinya maka banyak yang memilih cara ini dan bisa merasa hidupnya lebih suci. Tetapi ini adalah kesucian palsu. Kita adalah anggota tubuh Kristus. Anggota atau organ tubuh tidak mungkin tumbuh dewasa dan kuat tapi justru akan mati jika melepaskan diri dari tubuh yaitu gereja dan kristus sebagai kepala.

3. Menjadi kristen pemberontak. Ia tetap ikut dalam kebaktian, persekutuan dan kegiatan-kegiatan gereja namun tak henti-hentinya melontarkan kekecewaan dan menggosipkan kritikannya baik kepada gereja, pemimpin atau anggota jemaat lain. Orang yang terluka akan melukai orang lain. Ia seperti singa terluka yang melukai siapapun yang menyentuhnya. Ia tidak ingin tahu bagaimana cara untuk memperbaiki atau membangun kembali persekutuan itu sehingga menjadi lebih baik. Justru, Ia meruntuhkan dan bahkan dengan begitu mengorganisir orang lain untuk menghancurkan dan memecah persekutuan.

4. Menjadi kristen adem ayem. Ia memilih untuk hidup dalam kedamaian semu. Ia melihat ada dosa dan masalah dalam gereja namun ditutup-tutupi karena takut memunculkan konflik dan ketegangan. Akhirnya, dosa tidak pernah diakui. Masalah tidak diselesaikan. Jemaat ini hidup dalam kekecewaan yang ditekan dan rasa frustasi yang tersembunyi. Ini bukan sikap kasih, tapi sikap penakut. Di dalam kasih tidak ada ketakutan (I Yoh. 4:18).
Dari pada kita memilih untuk melakukan opsi tersebut di atas lebih baik kita mengambil langkah awal untuk memajukan gereja kita, seperti :

1. Memperbaharui komitmen bergereja.
Gereja membutuhkan komitmen dari para anggotanya. Komitmen untuk tetap bersekutu bersama dan memajukan gereja baik di masa susah atau senang. Anggota-anggota yang berkomitmen tidak hanya menuntut gereja itu terlebih dahulu harus hebat, beres, maju baru kemudian ia pun mau aktif melayani disitu. Anggota yang berani bekerja dan mengusahakan yang terbaik, bukan sekedar penonton di garis pinggir. Anggota yang berkiprah dalam melakukan perbaikan bukan hanya mendakwa atau bersikap apatis (tidak mau tahu). Yang tidak segera melarikan diri ketika ia tidak puas tetapi berjuang sekuat tenaga mencapai kemajuan.
Melarikan diri dan tidak punya komitmen adalah tanda ketidakdewasaan, termasuk meninggalkan gereja di saat ada ketidakpuasan. Hanya Tuhan Yesus yang dapat memuaskan kita. Ia tidak akan pernah mengecewakan kita. Jangan berharap pada manusia, sekalipun itu pemimpin gereja, pendeta, pertua/diaken dan orang percaya lainnya. Manusia tidak mungkin sanggup memenuhi semua yang kita harapkan apalagi memenuhi standar kepuasan kita. Sama seperti diri kita sendiri yang tidak mampu memenuhi kebutuhan semua orang.

Mari kita lebih dahulu belajar bersyukur atas gereja dan persekutuan dimana Allah telah menempatkan kita sebagai anggota keluargaNya, meskipun di situ belum dirasakan pengalaman iman yang dahsyat, tidak ada kemegahan dan kebanggaan yang diperoleh, banyak kesulitan, banyak kelemahan. Namun jika kita punya komitmen untuk terus rela dibentuk oleh firmanNya melalui persekutuan dalam keluarga Allah, maka setelah itu kita akan melihat kebesaran kasih karunia Allah yang bekerja pada kita dan gereja kita.

2. Membawa damai.
Pembawa damai adalah orang-orang yang aktif berusaha menyelesaikan konflik. Terlepas dari apakah kita yang melukai atau dilukai oleh gereja, pemimpin atau anggota jemaat, kita harus mengambil langkah awal untuk berdamai, melepaskan sakit hati, dan memperbaiki hubungan. Allah mengasihi orang-orang yang rendah hati dan menentang orang-orang yang congkak, egois, merasa diri paling benar, dan angkuh. Jangan karena sakit hati, kita memecah persekutuan atau meninggalkan gereja. Sakit hati yang cepat muncul merupakan hal yang bodoh (Amsal 12:16). Sakit hati membuat doa-doa kita tidak dijawab (Amsal 28:9), sakit hati membuat kita tidak bahagia dan mendatangkan amarah yang hanya akan menyakiti diri sendiri.

3. Menyatakan kebenaran dengan kasih
Memang lebih mudah untuk mengeluh atau pindah ke gereja lain di saat ada yang tidak benar terjadi di dalam jemaat, gereja atau keluarga Allah, namun butuh keberanian untuk mengatakan kebenaran di dalam kasih (Efesus 4:15). Karena gereja harus kudus & berlandaskan Firman Allah, dimana Firman Allah adalah kebenaran (Yoh. 17:17), maka menyatakan kebenaran dalam kasih adalah kewajiban kita, baik pemimpin maupun anggota jemaat. Dalam menyatakan kebenaran maka cara kita berbicara sama pentingnya dengan apa yang kita bicarakan. Caci maki, marah-marah dan sungut-sungut tidak pernah berhasil dengan baik. Ucapan kita tidak diterima jika kita kasar. Oleh karena itu, berbicara kepada Allah dalam doa adalah modal awal untuk mampu menyatakan kebenaran dengan penuh kasih di tengah-tengah jemaat.

4. Fokus pada persamaan untuk membangun kerjasama
Gereja terdiri dari anggota-anggota yang memiliki perbedaan kepribadian, latar belakang dan potensi. Kita harus mampu bekerjasama guna kemajuan gereja kita dengan memanfaatkan perbedaan talenta yang ada. Memusatkan perhatian pada satu tujuan, satu iman, satu harapan, satu kasih, satu baptisan, satu keselamatan dan satu Tuhan akan menjadikan kita sehati sepikir dalam memecahkan persoalan yang ada. Kita harus menghargai dan menikmati perbedaan tersebut, tidak sekedar menerima apalagi menolaknya. Lebih mudah membangun kemajuan secara bersama-sama dari pada bekerja sendiri. Musuh kerjasama adalah mementingkan diri sendiri, menyalahkan, mengeluh, membunuh semangat dengan kritikan, menghakimi, yang semuanya ini adalah pekerjaan setan yang didelegasikan kepada kita. Sadarlah bahwa musuh berhasil menipu kita ketika perpecahan, kekerasan, pertikaian dan kerusuhan jemaat terjadi. Sebesar apapun kita tidak sepaham dengan orang kristen lainnya, mereka sesungguhnya bukanlah musuh kita.
Gereja dibentuk dari kumpulan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Kadang-kadang secara sengaja atau tidak kita pasti saling melukai dan menyakiti karena kita adalah orang-orang berdosa. Allah memerintahkan kita untuk saling mengasihi satu dengan yang lain, sehingga kasih menaklukan banyak dosa. Dan persekutuan dalam gereja adalah wahana belajar dan latihan guna mempraktekkan perintah itu. Persekutuan yang semakin dalam akan membentuk karakter kita menjadi lebih kuat dan menuju keserupaan dengan kristus. Jika kita melarikan diri dari persekutuan dimana Allah telah menempatkan kita berarti kita menolak untuk dibentuk menjadi orang kristen yang lebih dewasa. (Septarina Ginting)